WONOGIRI – Di tengah meningkatnya kepedulian terhadap isu lingkungan dan pentingnya pendidikan karakter berbasis aksi nyata, SD Negeri 1 Sambirejo, Kecamatan Slogohimo, Kabupaten Wonogiri, menghadirkan sebuah inovasi yang sederhana namun berdampak besar. Melalui program Putra Simbah (Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Limbah) , sekolah berhasil mengubah limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi pupuk organik berkualitas tinggi yang kaya unsur hara sekaligus menjadi media pembelajaran bagi para siswa.
Inovasi ini lahir bukan semata-mata untuk menghasilkan pupuk organik, tetapi juga sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, efisiensi anggaran sekolah, serta upaya membangun karakter peserta didik agar memiliki kesadaran terhadap pentingnya menjaga kelestarian alam sejak usia dini.
Program tersebut digagas oleh salah satu guru SD Negeri 1 Sambirejo, Hendratno, S.Pd. , yang melihat adanya dua persoalan utama di lingkungan sekolah. Persoalan pertama adalah kondisi tanaman di lingkungan sekolah yang mulai terlihat kurang subur akibat kekurangan nutrisi tanah. Persoalan kedua adalah peningkatan harga pupuk kimia yang cukup membebani anggaran sekolah serta penggunaannya yang dinilai kurang ramah terhadap lingkungan dalam jangka panjang.
Berangkat dari kondisi tersebut, muncullah gagasan untuk memanfaatkan limbah yang tersedia di sekitar sekolah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.

Berawal dari Keprihatinan terhadap Lingkungan Sekolah
Setiap hari, sekolah menghasilkan berbagai jenis limbah organik. Mulai dari daun-daun kering yang gugur, mengomel hasil pemangkasan tanaman, abu sisa pembakaran sampah organik, hingga sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Selama ini, sebagian limbah tersebut hanya dibuang atau dibakar. Abu hasil pembakaran pun hanya menumpuk tanpa dimanfaatkan lebih lanjut. Padahal, abu diketahui kayu masih mengandung berbagai mineral yang dapat dimanfaatkan sebagai unsur penyubur tanah apabila diolah dengan benar.
Di sisi lain, sisa makanan dari program MBG juga menjadi tantangan tersendiri. Walaupun jumlahnya tidak terlalu besar setiap hari, jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bau tidak sedap dan berpotensi mencemari lingkungan.
Melihat kenyataan tersebut, Hendratno mulai melakukan berbagai kajian sederhana mengenai pengolahan limbah organik. Ia mempelajari berbagai referensi tentang proses fermentasi, pemanfaatan mikroorganisme pengurai, serta teknik pembuatan pupuk organik yang mudah diterapkan di lingkungan sekolah.
Setelah melalui beberapa kali percobaan, akhirnya lahirlah inovasi yang diberi nama Putra Simbah , singkatan dari Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Limbah .
Nama tersebut dipilih karena menggambarkan semangat mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan.

Mengubah Limbah Menjadi Berkah
Tahapan awal program Putra Simbah dimulai dengan mengumpulkan abu hasil pembakaran daun-daun dan mengomel yang sebelumnya hanya menjadi limbah.
Abu tersebut kemudian dicampurkan dengan berbagai bahan organik lain yang tersedia di lingkungan sekolah.
Seiring berkembangnya program, muncul ide baru untuk memanfaatkan limbah sisa makanan dari Program Makan Bergizi Gratis.
Sisa nasi, sayuran, buah, serta bahan organik lainnya dipilah terlebih dahulu agar terbebas dari sampah plastik maupun bahan anorganik.
Selanjutnya seluruh bahan organik tersebut difermentasi menggunakan aktivator mikroorganisme sehingga menghasilkan pupuk organik yang kaya unsur hara.
Proses fermentasi berlangsung selama beberapa minggu hingga seluruh bahan mengalami dekomposisi sempurna.
Hasil akhirnya berupa pupuk organik yang memiliki tekstur lebih halus, warna gelap, tidak berbau menyengat, serta siap digunakan untuk berbagai jenis tanaman.
Pupuk Organik Kaya Nutrisi
Keunggulan pupuk hasil inovasi Putra Simbah tidak hanya terletak pada pemanfaatan limbahnya.
Pupuk tersebut juga memiliki kandungan unsur hara yang cukup lengkap.
Abu membakar unsur kalium, kalsium, magnesium, dan sejumlah mineral lainnya.
Sementara limbah makanan memberikan tambahan unsur nitrogen, fosfor, karbon organik, serta berbagai mikroorganisme yang membantu meningkatkan kesuburan tanah.
Perpaduan kedua bahan tersebut menghasilkan pupuk organik yang mampu memperbaiki struktur tanah sekaligus menyediakan nutrisi yang dibutuhkan tanaman.
Selain itu, penggunaan pupuk organik juga mampu meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah sehingga kualitas tanah menjadi lebih baik dibandingkan penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus.

Lingkungan Sekolah Menjadi Lebih Hijau
Setelah beberapa bulan penggunaan pupuk Putra Simbah, perubahan mulai terlihat.
Berbagai tanaman hias yang sebelumnya tampak layu mulai tumbuh lebih segar.
Pepohonan di halaman sekolah menghasilkan daun yang lebih hijau.
Tanaman bunga mulai berbunga lebih banyak.
Area taman sekolah yang sebelumnya terlihat gersang kini berubah menjadi lebih rindang.
Perubahan tersebut memberikan suasana belajar yang lebih nyaman bagi seluruh warga sekolah.
Udara menjadi lebih sejuk.
Lingkungan tampak lebih bersih.
Keindahan sekolah pun semakin meningkat.
Bagi siswa, perubahan tersebut menjadi bukti nyata bahwa limbah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata mampu memberikan manfaat besar apabila dikelola secara kreatif.
Menjadi Media Pembelajaran Nyata
Keunggulan lain dari program Putra Simbah adalah nilai edukasinya.
Program ini tidak hanya menghasilkan pupuk organik, tetapi juga menjadi laboratorium pembelajaran bagi siswa.
Peserta didik diajak mengenal proses pemilahan sampah.
Mereka belajar membedakan sampah organik dan anorganik.
Selanjutnya mereka mengamati proses fermentasi, memahami fungsi mikroorganisme, hingga melihat langsung perubahan limbah menjadi pupuk.
Pembelajaran semacam ini memberikan pengalaman nyata yang jauh lebih bermakna dibandingkan hanya membaca teori di buku pelajaran.
Siswa belajar bahwa menjaga lingkungan bukan sekedar slogan, melainkan tindakan nyata yang dapat dimulai dari hal-hal sederhana di sekolah.
Guru-guru juga memanfaatkan program ini sebagai media pembelajaran lintas mata pelajaran.
Pada mata pelajaran IPA, siswa mempelajari proses dekomposisi.
Pada Matematika, mereka menghitung komposisi bahan.
Pada Bahasa Indonesia, siswa membuat laporan hasil pengamatan.
Sedangkan pada Pendidikan Pancasila, siswa belajar mengenai gotong royong dan tanggung jawab terhadap lingkungan.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran menjadi lebih kontekstual, menyenangkan, dan sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang menekankan pengalaman belajar berbasis proyek.



